Suasana Prodi Fisika

Pak Pen lagi melayani mahasiswa konsul

Mahasiswa Fokus Mengerjakan Tugas

Mahasiswa sedang fokus mengerjakan Tugas Kuliah

Mahasiswa Menunggu Dosen di Prodi

Mahasiswa sedang menunggu dosen pembimbing untuk konsultasi

Suasana Belajar Mahasiswa Prodi Fisika FKIP Unsyiah

Mahasiswa sedang mengikuti ujian tengah semester.

Selasa, 02 Februari 2016

Catatan Kuliah

Catatan Kuliah


Review Film : Perempuan Berkalung Sorban

Posted: 01 Feb 2016 05:21 AM PST

foto : http://dapurfilm.com/wp-content/uploads/2011/03/IMG_6682.jpg


 Film Perempuan Berkalung Sorbanmerupakan adaptasi dari novel Perempuan Berkalung Sorban karya Abidah El Khalieqy. Abidah El Khalieqy merupakan sastrawan Indonesia yang peka terhadap realita sosial. Dalam novel ini ia mengangkat kisah kehidupan wanita dengan ketidakkesetaraanya terhadap laki-laki. film ini lebih mengarahkan pandangannya menampilkan tokoh perempuan dengan berbagai permasalahanya. Pandangan dalam film ini memfokuskan kajian pada realitas sosial dan budaya.

Annisa dengan karakter tokoh utama yang memiliki kepribadian kuat, cerdas, serta kritis, ditambah anak seorang kyai, dianggap mampu mewakili perjuangan seorang muslimah dalam  menegakkan emansipasi pemikiran dan keberaniannya untuk melawan dominasi dan diskriminasi dari hasil budaya yang bersifat patriarki.

Tokoh-tokoh dan masalah-masalah yang dimunculkan dalam film ini menunjukkan
adanya ketidaksetaraan gender. Pada dasarnya, film ini menceritakan perjalanan hidup Annisa sebagai tokoh yang menemui beberapa masalah dalam hubungannya dengan tokoh-tokoh lainnya yaitu Samsudin, Khudori, Kalsum, Rizal, dll. Ketidaksetaraan gender yang pada film initerkait dengan cara pandang terhadap peran laki-laki dan perempuan. Perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan ditunjukkan oleh keberadaan tokoh-tokoh yang mengalami berbagai peristiwa yang terkait dengan masalah ketidaksetaraan gender.

Film ini ingin menyampaikan pesan tentang kesetaraan gender, namun di sisi lain film ini lebih banyak menyajikan perlakuan diskriminatif terhadap perempuan. Perempuan juga mengalami pembungkaman dan pembisuan yang berdampak pada diskriminasi dalam bentuk seperti perempuan tidak boleh berpendapat, tidak berani mengungkapkan keinginannya atau persoalan yang dialami. Selain itu, perempuan juga sering diremehkan ketika berbicara sesuatu yang dianggap tidak penting oleh laki-laki, tidak punya kendali dalam pengambilan keputusan, tidak bisa membela diri meskipun benar dan selalu disalahkan. Pada akhirnya diperoleh kesimpulan bahwa tanda-tanda komunikasi dalam film "Perempuan Berkalung Sorban" dapat menunjukkan adanya diskriminasi terhadap perempuan.

Dalam materi Sex dan Gender melalui film ini ingin menyampaikan mengenai feminisme yaitu memperjuangkan hak-hak dari kaum wanita untuk mendapat hak yang sama tanpa adanya diskriminasi. Karena dalam realitanya hak-hak kaum wanita sering di kesampingkan dalam segala hal baik keluarga maupun hukum, kemudian negara kurang melindungi hak-hak kaum wanita dengan aturan hukum yang ada padahal hak-hak kaum wanita rentan terhadap pelanggaran-pelanggaran yang sering merugikan kaum wanita. Karena secara esensinya wanita makluk yang lemah dibandingkan dengan pria.

Dalam film Perempuan Berkalung Sorban ingin menjadikan perempuan sebagai subjek pencipta, bukan sekadar penerima. Namun dalam konteks ini, konsep perempuan menjadi pencipta  menimbulkan masalah saat mengalami perdebatan yang hebat dengan Islam sebagai sebuah peradaban dan jalan hidup. Islam memiliki prespektif tersendiri dalam memandang hidup dan kehidupan. Islam ini akan menentukan cara berpikir dan bertindak seseorang ketika menjumpai realitas.

Kontroversi padafilm ini,bergantung pada cara pandang kita menerimanya. Film ini mencoba mewadahi dan menyuguhkan fenomena sosial masyarakat. Ini sekaligus menjadi kritik sosial pada fenomena-fenomena yang sedang terjadi, yang kemudian ditarik ke dalam film.

Cara Penggunaan SPSS Untuk Penelitian Sosial

Posted: 01 Feb 2016 04:22 AM PST


1. Variable View digunakan untuk memasukkan data kuesioner seperti pertanyaan-pertanyaan dan Data View untuk memasukkan data responden.


2. Untuk mencari tingkat variable (ex. Tingkat Solidaritas dan  kekerabatan) :

> Buka SPSS - Transform – Compute Variable – Target Variable (tulis misal kategori solid) – Numeric Expression (yg dimasukan semua pertanyaan-pertanyaan (coding) dari variable solidaritas, itu misal yg dicari tingkat solidaritas. Cara memasukannya tinggal pindahkan setiap pertanyaan/ coding menggunakan +   contoh P1 + P2 + ... dst. Klik OK) – di variable view, decimals (sampingnya with dan table bagian kategorisolid), dari 2 diganti angka 0 supaya hasilnya gak desimal)


> Transform – Recode into different variables – masukin kategorisolid kesebelahnya – output variable (kasih aja nama tingsol) – change – old and new values (Old Value - isi rangenya kalo ada intervalnya/ jaraknya (11-16) , kalo gak ada diisi di value misal cuma angka 6 (atasnya range, paling atas). New Value di isi di Value, setiap ngisi range isi Value (yg ada di New Value) contoh rangenya 11-16 Valuenya (yg ada di New Value) isi 1, kedua rangenya 17-22 Valuenya (yg ada di New Value) isi 2, dst. –  Continue – Ok 
NB : "hitung range terlebih dahulu"

> Di variable view, decimals (sampingnya with dan table bagian tingsolsolid), dari 2 diganti angka 0 supaya hasilnya gak desimal)

> Lihat juga di Data View bagian kategorisolid sama tingsol, lihat sampai bawah jika ada yg kosong biasanya rangenya salah.

> Ini juga bisa diterapin untuk perindikator, atau pervariable, ini contoh tingsol. Untuk tingker sama caranya kayak gini. 

> Lihat hasilnya klik Analyze – Descriptive Statistics – frequancies – pindahin tingsol kesebelahnya – klik statistics (centang bagian central tendency semuanya kecuali sum, kemudian Disperson juga semuanya kecuali S. E. Mean "itu menurutku") – Continue – klik charts (pilih aja misal bar charts) – Continue – ok

3. Crosstabs atau table silang untuk mencari korelasi. Contoh hasilnya :

Pekerjaan * Jumlah Pendapatan Crosstabulation



Jumlah Pendapatan
Total



0-1500000
1500001-3000000
3000001
Pekerjaan
Apoteker
Count
0
0
1
1
% of Total
.0%
.0%
2.2%
2.2%
Buruh
Count
2
1
0
3
% of Total
4.4%
2.2%
.0%
6.7%
Ibu rumah tangga
Count
9
6
1
16
% of Total
20.0%
13.3%
2.2%
35.6%
Karyawan
Count
0
0
1
1
% of Total
.0%
.0%
2.2%
2.2%
Karyawan Swasta
Count
2
2
3
7
% of Total
4.4%
4.4%
6.7%
15.6%
Karyawan swasta
Count
0
1
0
1
% of Total
.0%
2.2%
.0%
2.2%
Ngajar ngaji, mahasiswa, guru madrasah
Count
0
0
1
1
% of Total
.0%
.0%
2.2%
2.2%
Pedagang
Count
2
5
0
7
% of Total
4.4%
11.1%
.0%
15.6%
Pensiunan
Count
0
1
0
1
% of Total
.0%
2.2%
.0%
2.2%
Perangkat desa
Count
1
0
0
1
% of Total
2.2%
.0%
.0%
2.2%
Perawat
Count
1
0
0
1
% of Total
2.2%
.0%
.0%
2.2%
Petani
Count
0
1
0
1
% of Total
.0%
2.2%
.0%
2.2%
Serabutan
Count
2
0
0
2
% of Total
4.4%
.0%
.0%
4.4%
Tidak bekerja
Count
1
0
0
1
% of Total
2.2%
.0%
.0%
2.2%
Wirausaha
Count
1
0
0
1
% of Total
2.2%
.0%
.0%
2.2%
Total
Count


 % of Total
21


46.7%
17


37.8%
7


15.6%
45


  100.0%





> Analyze – Descriptive Statistics – Crosstabs – row ( pindahkan misal pekerjaan) – coloumn (pindahkan misal jumlah pendapatan) – klik cells (centang yang ada tulisan total) – continue – ok

4. Uji validitas memang ada perdebatan untuk cara yang digunakan ada yang bilang memakai table r, ada yg bilang harus pake dibawah 0,05 tapi sebenarnya sama aja. Table r dapat diperoleh di buku metode penelitian sosial yang ada di toko buku disitu ada table r atau nama lainnya yaitu tabel koefisien relasi "r" momen productmisal sample yang digunakan 45 kita lihat di table r urutan 45  kita gunakan yang 0,2429. Setelah tabel masih ada penjelasan lagi.



 DF = n-2
Tingkat Signifikansi Untuk Uji 1 arah
0,05
0,025
0,001
0,005
0,0005
Tingkat Signifikansi Untuk Uji 2 arah
0,1
0,05
0,02
0,01
0,001
1
0,9877
0,9969
0,9995
0,9999
1,0000
2
0,9000
0,9500
0,9800
0,9900
0,9990
3
0,8054
0,8783
0,9343
0,9587
0,9911
4
0,7293
0,8114
0,8822
0,9172
0,9741
5
0,6694
0,7545
0,8329
0,8745
0,9509
6
0,6215
0,7067
0,7887
0,8343
0,9249
7
0,5822
0,6664
0,7498
0,7977
0,8983
8
0,5494
0,6319
0,7155
0,7646
0,8721
9
0,5214
0,6021
0,6851
0,7348
0,8470
10
0,4973
0,5760
0,6581
0,7079
0,8233
11
0,4762
0,5529
0,6339
0,6835
0,8010
12
0,4575
0,5324
0,6120
0,6614
0,7800
13
0,4409
0,5140
0,5923
0,6411
0,7604
14
0,4259
0,4973
0,5742
0,6226
0,7419
15
0,4124
0,4821
0,5577
0,6055
0,7247
16
0,4000
0,4683
0,5425
0,5897
0,7084
17
0,3887
0,4555
0,5285
0,5751
0,6932
18
0,3783
0,4438
0,5155
0,5614
0,6788
19
0,3687
0,4329
0,5034
0,5487
0,6652
20
0,3598
0,4227
0,4921
0,5368
0,6524
21
0,3515
0,4132
0,4815
0,5256
0,6402
22
0,3438
0,4044
0,4716
0,5151
0,6287
23
0,3365
0,3961
0,4622
0,5052
0,6178
24
0,3297
0,3882
0,4534
0,4958
0,6074
25
0,3233
0,3809
0,4451
0,4869
0,5974
26
0,3172
0,3739
0,4372
0,4785
0,5880
27
0,3115
0,3673
0,4297
0,4705
0,5790
28
0,3061
0,3610
0,4226
0,4629
0,5703
29
0,3009
0,3550
0,4158
0,4556
0,5620
30
0,2960
0,3494
0,4093
0,4487
0,5541
31
0,2913
0,3440
0,4032
0,4421
0,5465
32
0,2869
0,3388
0,3972
0,4357
0,5392
33
0,2826
0,3338
0,3916
0,4296
0,5322
34
0,2785
0,3291
0,3862
0,4238
0,5254
35
0,2746
0,3246
0,3810
0,4182
0,5189
36
0,2709
0,3202
0,3760
0,4128
0,5126
37
0,2673
0,3160
0,3712
0,4076
0,5066
38
0,2638
0,3120
0,3665
0,4026
0,5007
39
0,2605
0,3081
0,3621
0,3978
0,4950
40
0,2573
0,3044
0,3578
0,3932
0,4896
41
0,2542
0,3008
0,3536
0,3887
0,4843
42
0,2512
0,2973
0,3496
0,3843
0,4791
43
0,2483
0,2940
0,3457
0,3801
0,4742
44
0,2455
0,2907
0,3420
0,3761
0,4694
45
0,2429
0,2876
0,3384
0,3721
0,4647
46
0,2403
0,2845
0,3348
0,3683
0,4601
47
0,2377
0,2816
0,3314
0,3646
0,4557
48
0,2353
0,2787
0,3281
0,3610
0,4514
49
0,2329
0,2759
0,3249
0,3575
0,4473
50
0,2306
0,2732
0,3218
0,3542
0,4432
51
0,2284
0,2706
0,3188
0,3509
0,4393
52
0,2262
0,2681
0,3158
0,3477
0,4354
53
0,2241
0,2656
0,3129
0,3445
0,4317
54
0,2221
0,2632
0,3102
0,3415
0,4280
55
0,2201
0,2609
0,3074
0,3385
0,4244
56
0,2181
0,2586
0,3048
0,3357
0,4210
57
0,2162
0,2564
0,3022
0,3328
0,4176
58
0,2144
0,2542
0,2997
0,3301
0,4143
59
0,2126
0,2521
0,2972
0,3274
0,4110
60
0,2108
0,2500
0,2948
0,3248
0,4079
61
0,2091
0,2480
0,2925
0,3223
0,4048
62
0,2075
0,2461
0,2902
0,3198
0,4018
63
0,2058
0,2441
0,2880
0,3173
0,3988
64
0,2042
0,2423
0,2858
0,3150
0,3959
65
0,2027
0,2404
0,2837
0,3126
0,3931
66
0,2012
0,2387
0,2816
0,3104
0,3903
67
0,1997
0,2369
0,2796
0,3081
0,3876
68
0,1982
0,2352
0,2776
0,3060
0,3850
69
0,1968
0,2335
0,2756
0,3038
0,3823
70
0,1954
0,2319
0,2737
0,3017
0,3798
71
0,1940
0,2303
0,2718
0,2997
0,3773
72
0,1927
0,2287
0,2700
0,2977
0,3748
73
0,1914
0,2272
0,2682
0,2957
0,3724
74
0,1901
0,2257
0,2664
0,2938
0,3701
75
0,1888
0,2242
0,2647
0,2919
0,3678
76
0,1876
0,2227
0,2630
0,2900
0,3655
77
0,1864
0,2213
0,2613
0,2882
0,3633
78
0,1852
0,2199
0,2597
0,2864
0,3611
79
0,1841
0,2185
0,2581
0,2847
0,3589
80
0,1829
0,2172
0,2565
0,2830
0,3568
81
0,1818
0,2159
0,2550
0,2813
0,3547
82
0,1807
0,2146
0,2535
0,2796
0,3527
83
0,1796
0,2133
0,2520
0,2780
0,3507
84
0,1786
0,2120
0,2505
0,2764
0,3487
85
0,1775
0,2108
0,2491
0,2748
0,3468
86
0,1765
0,2096
0,2477
0,2732
0,3449
87
0,1755
0,2084
0,2463
0,2717
0,3430
88
0,1745
0,2072
0,2449
0,2702
0,3412
89
0,1735
0,2061
0,2435
0,2687
0,3393
90
0,1726
0,2050
0,2422
0,2673
0,3375
91
0,1716
0,2039
0,2409
0,2659
0,3358
92
0,1707
0,2028
0,2396
0,2645
0,3341
93
0,1698
0,2017
0,2384
0,2631
0,3323
94
0,1689
0,2006
0,2371
0,2617
0,3307
95
0,1680
0,1996
0,2359
0,2604
0,3290
96
0,1671
0,1986
0,2347
0,2591
0,3274
97
0,1663
0,1975
0,2335
0,2578
0,3258
98
0,1654
0,1966
0,2324
0,2565
0,3242
99
0,1646
0,1956
0,2312
0,2552
0,3226
100
0,1638
0,1946
0,2301
0,2540
0,3211
101
0,1630
0,1937
0,2290
0,2528
0,3196
102
0,1622
0,1927
0,2279
0,2515
0,3181
103
0,1614
0,1918
0,2268
0,2504
0,3166
104
0,1606
0,1909
0,2257
0,2492
0,3152
105
0,1599
0,1900
0,2247
0,2480
0,3137
106
0,1591
0,1891
0,2236
0,2469
0,3123
107
0,1584
0,1882
0,2226
0,2458
0,3109
108
0,1576
0,1874
0,2216
0,2446
0,3095
109
0,1569
0,1865
0,2206
0,2436
0,3082
110
0,1562
0,1857
0,2196
0,2425
0,3068
111
0,1555
0,1848
0,2186
0,2414
0,3055
112
0,1548
0,1840
0,2177
0,2403
0,3042
113
0,1541
0,1832
0,2167
0,2393
0,3029
114
0,1535
0,1824
0,2158
0,2383
0,3016
115
0,1528
0,1816
0,2149
0,2373
0,3004
116
0,1522
0,1809
0,2139
0,2363
0,2991
117
0,1515
0,1801
0,2131
0,2353
0,2979
118
0,1509
0,1793
0,2122
0,2343
0,2967
119
0,1502
0,1786
0,2113
0,2333
0,2955
120
0,1496
0,1779
0,2104
0,2324
0,2943
121
0,1490
0,1771
0,2096
0,2315
0,2931
122
0,1484
0,1764
0,2087
0,2305
0,2920
123
0,1478
0,1757
0,2079
0,2296
0,2908
124
0,1472
0,1750
0,2071
0,2287
0,2897
125
0,1466
0,1743
0,2062
0,2278
0,2886
126
0,1460
0,1736
0,2054
0,2269
0,2875
127
0,1455
0,1729
0,2046
0,2260
0,2864
128
0,1449
0,1723
0,2039
0,2252
0,2853
129
0,1443
0,1716
0,2031
0,2243
0,2843
130
0,1438
0,1710
0,2023
0,2235
0,2832
131
0,1432
0,1703
0,2015
0,2226
0,2822
132
0,1427
0,1697
0,2008
0,2218
0,2811
133
0,1422
0,1690
0,2001
0,2210
0,2801
134
0,1416
0,1684
0,1993
0,2202
0,2791
135
0,1411
0,1678
0,1986
0,2194
0,2781
136
0,1406
0,1672
0,1979
0,2186
0,2771
137
0,1401
0,1666
0,1972
0,2178
0,2761
138
0,1396
0,1660
0,1965
0,2170
0,2752
139
0,1391
0,1654
0,1958
0,2163
0,2742
140
0,1386
0,1648
0,1951
0,2155
0,2733
141
0,1381
0,1642
0,1944
0,2148
0,2723
142
0,1376
0,1637
0,1937
0,2140
0,2714
143
0,1371
0,1631
0,1930
0,2133
0,2705
144
0,1367
0,1625
0,1924
0,2126
0,2696
145
0,1362
0,1620
0,1917
0,2118
0,2687
146
0,1357
0,1614
0,1911
0,2111
0,2678
147
0,1353
0,1609
0,1904
0,2104
0,2669
148
0,1348
0,1603
0,1898
0,2097
0,2660
149
0,1344
0,1598
0,1892
0,2090
0,2652
150
0,1339
0,1593
0,1886
0,2083
0,2643
151
0,1335
0,1587
0,1879
0,2077
0,2635
152
0,1330
0,1582
0,1873
0,2070
0,2626
153
0,1326
0,1577
0,1867
0,2063
0,2618
154
0,1322
0,1572
0,1861
0,2057
0,2610
155
0,1318
0,1567
0,1855
0,2050
0,2602
156
0,1313
0,1562
0,1849
0,2044
0,2593
157
0,1309
0,1557
0,1844
0,2037
0,2585
158
0,1305
0,1552
0,1838
0,2031
0,2578
159
0,1301
0,1547
0,1832
0,2025
0,2570
160
0,1297
0,1543
0,1826
0,2019
0,2562
161
0,1293
0,1538
0,1821
0,2012
0,2554
162
0,1289
0,1533
0,1815
0,2006
0,2546
163
0,1285
0,1528
0,1810
0,2000
0,2539
164
0,1281
0,1524
0,1804
0,1994
0,2531
165
0,1277
0,1519
0,1799
0,1988
0,2524
166
0,1273
0,1515
0,1794
0,1982
0,2517
167
0,1270
0,1510
0,1788
0,1976
0,2509
168
0,1266
0,1506
0,1783
0,1971
0,2502
169
0,1262
0,1501
0,1778
0,1965
0,2495
170
0,1258
0,1497
0,1773
0,1959
0,2488
171
0,1255
0,1493
0,1768
0,1954
0,2481
172
0,1251
0,1488
0,1762
0,1948
0,2473
173
0,1247
0,1484
0,1757
0,1942
0,2467
174
0,1244
0,1480
0,1752
0,1937
0,2460
175
0,1240
0,1476
0,1747
0,1932
0,2453
176
0,1237
0,1471
0,1743
0,1926
0,2446
177
0,1233
0,1467
0,1738
0,1921
0,2439
178
0,1230
0,1463
0,1733
0,1915
0,2433
179
0,1226
0,1459
0,1728
0,1910
0,2426
180
0,1223
0,1455
0,1723
0,1905
0,2419
181
0,1220
0,1451
0,1719
0,1900
0,2413
182
0,1216
0,1447
0,1714
0,1895
0,2406
183
0,1213
0,1443
0,1709
0,1890
0,2400
184
0,1210
0,1439
0,1705
0,1884
0,2394
185
0,1207
0,1435
0,1700
0,1879
0,2387
186
0,1203
0,1432
0,1696
0,1874
0,2381
187
0,1200
0,1428
0,1691
0,1869
0,2375
188
0,1197
0,1424
0,1687
0,1865
0,2369
189
0,1194
0,1420
0,1682
0,1860
0,2363
190
0,1191
0,1417
0,1678
0,1855
0,2357
191
0,1188
0,1413
0,1674
0,1850
0,2351
192
0,1184
0,1409
0,1669
0,1845
0,2345
193
0,1181
0,1406
0,1665
0,1841
0,2339
194
0,1178
0,1402
0,1661
0,1836
0,2333
195
0,1175
0,1398
0,1657
0,1831
0,2327
196
0,1172
0,1395
0,1652
0,1827
0,2321
197
0,1169
0,1391
0,1648
0,1822
0,2315
198
0,1166
0,1388
0,1644
0,1818
0,2310
199
0,1164
0,1384
0,1640
0,1813
0,2304
200
0,1161
0,1381
0,1636
0,1809
0,2298

> Analyze – Correlate – Bivariate – masukin semua pertanyaan (ex. uji validitas teori durkheim) terakhir masukin kategorikeker – centang Pearson – ok – lihat di pearson correlation bagian tingker, lihat setiap kolom kebawah. Contoh pake table r kalo hasilnya lebih dari 0,2429 berarti valid kalo dibawah berarti tidak valid.
 

Erving Goffman : Dramaturgi "Keadaan Sekitar Area Loket Di Stasiun Kereta Api Kota Baru Malang"

Posted: 01 Feb 2016 03:36 AM PST

Stasiun kereta api kota Malang merupakan stasiun kereta api yang terletak di Jl. Trunojoyo No.10 kecamatan Klojen, Malang, Jawa Timur. Stasiun ini merupakan stasiun kereta api terbesar di Kota Malang. Stasiun ini terkadang disebut sebagai Stasiun Malang Kotabaru untuk membedakannya dengan Stasiun Malang Kotalama yang ada di Jalan Kol. Sugiono, Ciptomulyo Malang. Stasiun kereta api Kotabaru ini menghadap langsung ke arah icon Kota Malang, yaitu Monumen Tugu yang berada di depan kantor Balai Kota Malang. Lokasi Stasiun Malang sangat strategis karena terletak tidak jauh dari Alun-Alun Bundar. Karena lokasinya yang strategis, menjadikan Stasiun Kota Baru juga dekat dengan beberapa tempat penginapan terkenal seperti Hotel Tugu dan Splendid Inn yang terletak di sebelah selatan Stasiun Kereta Api Malang ini. Stasiun Tugu juga dilintasi beberapa angkutan umum / mikrolet kawasan Kota Malang seperti ADL (Arjosari – Dinoyo – Landung Sari) dan AL (Arjosari – Landung Sari). Di dalam atau di luar stasiun kereta api banyak perilaku sosial yang dilakukan masyarakat seperti calo, satpam, pelayan loket, cleaning service, tukang parkir, pengemis dan pedagang kaki lima. sehingga menggugah peneliti untuk mengambil observasi di lokasi stasiun. Peneliti melakukan penelitian dalam hal ini untuk membuktikan prespektif dari Erving Goffman seorang sosiolog dari Amerika yang memaparkan mengenai Dramaturgi.


Erving Goffman lahir di Mannville, Alberta, Canada, 11 Juni 1922. Meraih gelar Bachelor of Arts (B.A) tahun 1945, gelar Master of Arts tahun 1949 dan gelar Philosophy Doctor (Ph.D) tahun 1953. Tahun 1958 meraih gelar Guru Besar, tahun 1970 diangkat menjadi anggota Committee for Study of Incarceration. Dan tepat di tahun 1977 ia memperoleh penghargaan Guggenheim. Meninggal pada tahun 1982, setelah sempat menjabat sebagai Presiden dari American Sociological Association dari tahun 1981-1982. (Ritzer, 2004: 296). Salah satu karya Goffman pada tahun 1959 yaitu dalam bukunya "Presentation of Self in Every Day" mengenai Dramaturgi.

          Dramaturgi adalah cara perilaku seperti peran dalam drama yang dilakukan oleh
individu atau kelompok untuk mendapatkan keinginan yang diharapkan dan perilaku ini terus berkelanjutan. Dramaturgi yang lebih diteliti yaitu mengenai wilayah (region). Goffman mengatakan bahwa "Wilayah sebagai tempat yang dibatasi oleh persepsi" (Goffman, 1959: 66) maksudnya adalah bahwa wilayah menjadi hambatan individu untuk melakukan keinginan yang diharapkannya karena wilayah dipengaruhi oleh hasil dari persepsi individu-individu yang kemudian disepakati bersama menjadi norma dan budaya yang harus dilakukan. Sebagai contoh seseorang beribadah ke masjid dia menggunakan baju muslim tidak memakai kaos oblong. Kemudian dalam wilayah dibagi menjadi 3 yaitu wilayah depan (front region), belakang (back region) dan The Out Ide. Dalam dramaturgi juga ada yang namanya Front stage adalah peran yang dilakukan individu untuk menunjukkan kepada individu lainnya atas apa yang diharapkan dalam perumpamaannya ketika pemeran drama berada ditengah panggung sedang memainkan perannya untuk mendapatkan reward dari penonton, kemudian yang menjadi tempat di frontstage merupakan wilayah front region. Sedangkan backstage adalah persiapan perilaku untuk melakukan front stage sebagai perumpamaannya dalam drama yaitu ketika para pemeran drama berada dalam ruang tata rias dan mempersiapkan drama tersebut untuk berjalan dengan lancar, kemudian yang menjadi tempat di backstage merupakan wilayah back region.

Karena diawal merupakan kerja tim shingga sebelum peneliti melakukan penelitian, tim peneliti membagi tema lokasi area kepada anggota dan peneliti mendapatkan area di sekitar loket. Sehari sebelum peneliti melakukan penilitian, peneliti sudah mempersiapkan apa saja hal-hal yang harus dilakukan menjelang observasi. Dalam melakukan penelitian, peneliti menggunakan metode pengamatan dan wawancara. Di area lokasi loket peneliti duduk diantara para calon penumpang untuk mengamati kondisi fisik yang ada di stasiun disana terdapat loket, kursi tunggu, papan jadwal keberangkatan, meja untuk menulis borang tiket, fasilitas free charging, elektronik tiket, kantor customer service dan tempat boarding pass. Untuk kondisi suasana di area loket sangat ramai banyak macam-macam perilaku yang dilakukan seperti yang dilakukan calon pembeli tiket melihat papan jadwal keberangkatan, menulis borang tiket di meja, memanfaatkan elektronik tiket untuk mengurangi kepadatan mengantri di loket, calon penumpang yang menunggu kedatangan kereta di  kursi tunggu, mengantri di loket dan pemanfaatan fasilitas free charging. 

Kemudian peneliti melakukan wawancara dengan tidak sengaja (tidak terbuka) sebagai upaya agar tidak menghilangkan esensi dari narasumber. Tujuan dari wawancara adalah memperoleh pendapat dari narasumber mengenai keadaan di sekitar area loket stasiun. Narasumber yang peneliti wawancara (tidak disebutkan nama untuk menjaga privasi seseorang) menunjukan seorang yang berusia 20an dan berpendidikan cukup tinggi, walaupun peneliti tidak menanyakannya dapat dilihat dari cara dan gaya bicara yang dilakukan serta pakaian formal yang digunakan. Peneliti juga sempat menanyakan pengetahuan informasi jadwal keberangkatan dan harga tiket yang diketahui oleh narasumber dari internet. 

Dalam analisa observasi terkait prespektif goffman untuk aspek lingkungan berhubungan dengan wilayah (region). Di area loket peneliti mengambil contoh perilaku petugas loket yang melayani pembeli dengan menggunakan baju dinas dan bersikap sopan santun karena untuk menjaga reputasi PT. Kereta Api Indonesia dari penilaian masyarakat hal ini menunjukkan bahwa petugas loket sedang berada di wilayah depan (front region) karena bertatap muka dengan pembeli sedangkan ketika petugas loket berada dalam loket dan berbicara atau berinteraksi dengan petugas lainnya cara bersikap dan tuturkatanya berbeda agak sedikit kasar, wilayah ini menunjukkan petugas loket sedang berada diwilayah back region (wilayah belakang). Untuk aspek perilaku dalam observasi peneliti mengambil contoh perilaku pembeli tiket yang sedang mengantri dengan raut wajah lesu, bosan dan tidak mengenakkan tetapi pembeli tetap bersabar untuk menghadapinya, hal ini sedang menunjukkan dalam keadaan di backstage. Kemudian ketika pembeli tetap bersabar menunggu untuk mendapatkan tiket dan tidak ada perilaku seperti marah-marah atau pulang, selama itu menunjukkan berada di frontstage untuk mendapatkan penilaian yang baik dari individu lainnya. Untuk hasil wawancara yang diperoleh adalah pendapat dari narasumber mengenai keadaan di sekitar area loket stasiun dengan keadaan sudah nyaman dan bersih, fasilitas yang sudah baik seperti adanya free charging yang dapat membantu masyarakat dan elektronik tiket. Narasumber juga memberi pendapat bahwa pembeliaan tiket online lebih memudahkan untuk calon penumpang dibandingkan tiket manual yang biasanya dibutuhkan untuk tiket langsung jalan. Dapat dianalisa jika dikaitkan dengan Dramaturgi bahwa narasumber tersebut memiliki pengetahuan yang cukup seputar jadwal keberangkatan dan harga tiket yang diperoleh dari internet menunjukkan bahwa berada di backstage untuk persiapan menghadapi kejadian di stasiun seperti pembelian tiket yang menunjukkan front stage.

Dari semua yang tertulis dapat disimpulkan penelitian terhadap prespektif dari Erving Goffman  mengenai Dramaturgi terjadi dalam kehidupan sehari-hari dengan contoh mengambil perilaku sosial di lokasi stasiun kereta api.

ANALISIS PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NO. 2 TAHUN 2012

Posted: 01 Feb 2016 01:58 AM PST

           Peraturan daerah (Perda) Kota Malang tentang Ketertiban umum dan lingkungan nomor 2 tahun 2012 dibuat dengan adanya maksud dan tujuan yaitu mempertahankan kebersihan, kenyamanan dan keamanan lingkungan di masyarakat serta untuk mempertahankan estetika kota malang. Dengan dibuatnya Perda tersebut pemerintah mengharapkan masyarakat dapat mematuhi peraturan yang ada. Perda ini dibuat atas persetujuan bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) KOTA MALANG dengan WALIKOTA MALANG.  

Di Kota Malang Pedagang Kaki Lima (PKL) sangat banyak, biasanya dapat kita jumpai di tempat-tempat strategis yang ramai, yang dijadikan tempat untuk berdagang, termasuk trotoar. Akibatnya tata kota yang sudah dibangun dengan konsep yang bagus tak bisa difungsikan sebagai
contoh dikawasan Jalan Pasar Besar dan sekitar alun-alun. Dilansir oleh malang-post, keberadaan mereka sebenarnya sudah pernah ditertibkan namun Pemerintah Daerah (Pemda) selalu terlambat melakukan penanganan. Buktinya tak ada tindakan tegas di saat PKL baru bermunculan. Padahal saat muncul satu atau dua PKL, mestinya sudah ditindak tegas lalu melakukan pengawasan. Akibat tak ditindak tegas, lama-lama PKL bermunculan. Hal ini tak hanya tampak di Jalan Pasar Besar, Jalan KH Agus Salim dan sekitar alun-alun. Namun juga sudah tampak di Jalan Soekarno Hatta, Jalan Bendungan Sigura-gura, kawasan Tegalgondo dan berbagai kawasan lain yang kini mulai tumbuh PKL baru. PKL memang tak bisa seenaknya digusur karena pasti akan menuai protes. Namun penataannya harus dilakukan dengan konsep yang jelas dan ideal sehingga tak mengundang masalah baru.

Di dalam BAB 1 KETENTUAN UMUM Pasal 1 No. 12 dijelaskan bahwa "Pedagang Kaki Lima yang selanjutnya disingkat PKL adalah pedagang yang menjalankan kegiatan usaha dagang dan jasa non formal dalam jangka waktu tertentu dengan mempergunakan lahan formal dalam jangka waktu tertentu dengan mempergunakan lahan fasilitas umum yang ditentukan oleh pemerintah daerah sebagai tempat usahanya, baik dengan menggunakan sarana atau perlengkapan yang mudah dipindah, dan/atau dibongkar pasang." Realita yang ada banyak PKL yang tidak sesuai dengan pasal tersebut. Sebagai contoh jika PKL berjualan disepanjang trotoar menuju pasar besar maka yang dirugikan adalah masyarakat umum tidak bisa berjalan dengan nyaman. Untuk menertibkan PKL biasanya pemerintah memindahkan mereka ke tempat lain, hal ini banyak menuai protes dari para PKL sebab mereka akan kehilangan para pembeli. Penertiban yang dilakukan pemerintah juga kurang tegas karena seringkali terjadi keterlambatan penanganan PKL. Jika kita lihat Efektifitas Perda ini sangat membantu, dalam kasus atau konflik ini sangat dibutuhkan terjalinnya kerjasama yang baik (mengerti satu sama lain) antara Pemda, PKL dan masyarakat umum untuk mendapatkan kenyamanan kehidupan.

Daftar Pustaka: